Biografi Ja’far bin Muhammad Abu Ma’shar al-Balkhi

Sejak remaja, Abu Ma’shar sudah memelajari tradisi kuno Arab. Ia terus memperdalam pengetahuannya di bidang itu sambil memelajari bidang lain, seperti astronomi. 

Abu Masyar Ja’far Ibnu Muhammad Ibnu Umar juga dikenal sebagai al-Falaki atau Ibn Balkhi, Latin sebagai Albumasar, Albusar, atau Albuxar adalah astronom dan filsuf Islam asal Persia. Ia dianggap sebagai Astronom terbesar dari Abbasiyah di Baghdad. Ia menulis sejumlah buku pedoman praktis tentang astrologi,  Karya-karyanya ditulis dalam bahasa Arab dan Persia.

Abu Ma’shar al-Balkhi lahir 10 Agustus 787 (abad IX) di Balkh, Khurasan Balkh, sebuah kota di sebelah timur Khurasan. Abu Ma’shar ahli astronomi dan astrologi. Astrologi yang dimaksudkan di sini adalah yang berhubungan dengan rasi bintang, bukan ilmu nujum. Setelah menyelesaikan studi Tradisi Islam Klasik di Baghdad, Abu Ma’shar mencurahkan seluruh perhatiannya untuk memelajari astronomi dan astrologi.

Sejak remaja, Abu Ma’shar sudah memelajari tradisi kuno Arab. Ia terus memperdalam pengetahuannya di bidang itu sambil memelajari bidang lain, seperti astronomi. Pada masa itu, ilmu astrologi belum dihubungkan dengan ilmu nujum. Abu Ma’shar menguasai astrologi yang bermuatan sains. Ia menghasilkan sejumlah karya astrologi yang banyak dipengaruhi prinsip dasar dan hukum-hukum astronomi. Karyanya itu berisi sejumlah pengamatan yang telah dilakukannya, salah satunya adalah mengamati komet. Sehubungan dengan hal itu, Tycho Brahe berpendapat bahwa Abu Ma’shar adalah ilmuwan pertama yang menyanggah pendapat Aristoteles bahwa dia telah mengamati komet-komet di sfera Planet Venus. Tycho Brahe menulis pendapat tersebut dalam bukunya yang berjudul Progymnastica.

Abu Ma’shar juga pernah menghasilkan sebuah himpunan Tabel Astronomi (Zij) dan sebuah risalah yang terdiri dari delapan buku. Risalah yang berjudul al-Madkhali al-Kabir il Ilm al-Nujum (Pengantar Besar ke Ilmu Astrologi) ini telah dua kali diterjemahkan dalam bahasa Latin. Pertama, oleh Johanes Hispalensis pada tahun 1130. Kedua, oleh Hermanus Secundus pada tahun 1150.

Keberadaan karya-karya Abu Ma’shar sangat memengaruhi para ilmuwan Timur dan Barat. Pada abad pertengahan, para ilmuwan Eropa memelajari Hukum Pasang Surut Air Laut dari buku Abu Ma’shar. Dalam penjelasan itu terdapat beberapa uraian yang sangat mengagumkan karena sesuai dengan hasil pengamatan yang dilakukan oleh sejumlah ilmuwan modern. Misalnya, teori tentang pengaruh bulan terhadap angin dan curah hujan. Hingga kini, karya tersebut masih sering dijadikan bahan rujukan oleh para ahli matematika dan geografi. Selain menguasai ilmu perbintangan, Abu Ma’shar al-Balkhi dikenal pula sebagai seorang filosof.

Abu Masyar Ja’far Ibnu Muhammad Ibnu Umar wafat pada pada 9 Maret 886 Wasit, Irak.

Pengenalan untuk astrologi

Kitab al-mudkhal al-Kabir pengenalan astrologi yang menerima banyak terjemahan ke bahasa Latin dan Yunani mulai dari abad ke-11. Ini memiliki pengaruh yang signifikan terhadap filsuf Barat, seperti Albertus Agung.
Kitab Mukhtasar al-mudkhal, sebuah versi singkat di atas, kemudian diterjemahkan ke bahasa Latin oleh Adelard of Bath.

Astrologi sejarah

Kitab al-Milal wa-l-ʾ Duwal (“Buku tentang agama dan dinasti”)
Fi dzikir ma tadullu ʿ alayhi al-ashkhāṣ al-ʿ ulwiyya (“Pada indikasi adanya benda-benda langit”),
Kitab al-ʿ dalālāt ala al-ittiṣālāt wa-al-qirānāt kawākib (“Kitab indikasi adanya konjungsi planet”),
Kitab al-ulūf (“Kitab ribu”), diawetkan hanya dalam ringkasan oleh Sijzī.
Kitāb taḥāwīl Sini al-‘alam (Bunga-bunga Abu Ma’shar), menggunakan horoskop untuk memeriksa bulan dan hari dalam setahun. Itu adalah petunjuk bagi astrolog. Hal itu diterjemahkan di abad ke-12 oleh John of Seville.

Genethlialogy

Kitāb taḥāwil Sini al-mawālīd (“Kitab revolusi dari tahun nativities”). diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani pada 1000, dan dari bahwa terjemahan ke dalam bahasa Latin pada abad ke-13.
Kitāb al-Rijal mawālīd wa-ʾ l-Nisa ʾ (“Kitab nativities pria dan wanita”), yang beredar luas di dunia Islam.

Buku yang tersedia dalam bahasa Latin dan terjemahan Yunani

De Magnis coniunctionibus, ed.-transl. K. Yamamoto, Ch. Burnett, Leiden, 2000, 2 jilid. (Arabic & teks Latin)
De revolutionibus nativitatum, ed. D. Pingree, Leipzig, 1968 (teks Yunani)
Liber florum Diterjemahkan oleh James Herschel Holden di Lima Astrolog Medieval (Tempe, Az:. AFA, Inc, 2008): 13-66.
Introductorium Maius, ed. R. Lemay, Napoli, 1995-1996, 9 jilid. (Arabic text & dua terjemahan Latin)
Ysagoga minor, ed.-transl. Ch. Burnett, K. Yamamoto, M. Yano, Leiden-New York, 1994 (Arab & Latin text)

Biografi Abu Rayhan al-Biruni

Dengan tekad mendedikasikan dirinya pada ilmu pengetahuan, Al-Biruni melakukan penelitian terhadap semua jenis ilmu yang ada. Karenanya, banyak ahli sejarah yang menganggap ia sebagai ilmuwan terbesar sepanjang masa. Selain itu, setiap terjun kemasyarakat dan melakukan penelitian, al-Biruni sangat mudah menyatu dengan lingkungan. Ia pun dikenal sebagai sosok yang penuh toleransi.

Abu Raihan al-Biruni: Mahaguru Muslim Abad Pertengahan

Namanya Abu Raihan al-Biruni. Orang-orang mengenalnya dengan al-Biruni. Seorang ilmuwan Muslim besar pada abad pertengahan yang memberikan sumbangsih agung terhadap sejarah peradaban Islam. Sebutan al-Biruni pada namanya berarti asing. Hal ini karena dirinya menempati kawasan yang dihuni oleh orang-orang asing, tepatnya di pinggiran kota Khawarizmi, Turkmenistan.

Al-Biruni lahir pada tanggal 5 September 973 M/362 H di Khawarazmi, Turkmenistan atau Khiva di kawasan Danau Aral di Asia Tengah yang pada masa itu terletak dalam kekaisaran Persia. Ia merupakan seorang matematikawan Persia, astronom, fisikawan, sarjana, penulis ensiklopedia, filsuf, pengembara, sejarawan, ahli farmasi dan guru. Ia juga seorang ilmuwan yang menyatakan bahwa bumi itu bulat.

Sejak kecil, al-Biruni dikenal sebagai seorang yang mencintai ilmu dan taat beragama. Seluruh hidupnya ia habiskan untuk belajar dan berkarya. Semasa muda dia menimba ilmu matematika dan astronomi dari Abu Nasir Mansur. Ia juga berguru kepada ibnu Ali ibnu Iraqi, Syekh Abdusshamad bin Abdusshamad, dan Abu Al-Wafa Al-Buzayani. Berbagai ilmu yang diajarkan kepadanya, adalah ilmu pasti, Astronomi dan ilmu Kedokteran.

Saat berusia 20 tahun, Al-Biruni telah menulis beberapa karya di bidang sains. Dia juga kerap bertukar pikiran dan pengalaman dengan Ibnu Sina, Imuwan besar Muslim lainnya yang begitu berpengaruh di Eropa.

Dengan bermodalkan penguasaannya terhadap Bahasa Arab, Yunani, Ibrani dan Sansekerta, al-Biruni mampu menyerap berbagai ilmu pengetahuan langsung dari sumber aslinya. Hasilnya berbagai karya di bidang Matematika, Fisika, Astronomi, Kedokteran, Metafisika, Sastra, Ilmu Bumi, dan Sejarah pun menambah khazanah ilmu pengetahuan. Bahkan ia juga berhasil menemukan fenomena rotasi bumi dan bumi mengelilingi matahari setiap harinya.

Dengan tekad mendedikasikan dirinya pada ilmu pengetahuan, Al-Biruni melakukan penelitian terhadap semua jenis ilmu yang ada. Karenanya, banyak ahli sejarah yang menganggap ia sebagai ilmuwan terbesar sepanjang masa. Selain itu, setiap terjun kemasyarakat dan melakukan penelitian, al-Biruni sangat mudah menyatu dengan lingkungan. Ia pun dikenal sebagai sosok yang penuh toleransi.

Dalam mencari ilmu, ia tidak hanya puas berada di satu wilayah. Ia banyak melakukan perjalanan ke berbagai daerah di Asia Tengah dan Persia bagian utara. Bahkan selama dalam perjalanannya melanglang buana itu, Al-Birun pernah berada dalam satu himpunan sarjana Muslim lainnya seperti Ibnu Sina di Kurkang, Khawarizm. Setelah berpisah Al-Biruni dan Ibnu Sina tetap menjalin hubungan. Mereka terus mengadakan diskusi atau bertukar pikiran mengenai berbagai gejala alam.

Karya-Karyanya

Selama perjalanan hidupnya sampai dengan tahun 1048, Al-Biruni banyak menghasilkan karya tulis, tetapi hanya sekitar 200 buku yang dapat diketahui. Diantaranya adalah Tarikh Al-Hindi (sejarah India) sebagai karya pertama dan terbaik yang pernah ditulis sarjana Muslim tentang India.

Kemudian buku Tafhim li awal Al-Sina’atu Al-Tanjim, yang mengupas tentang ilmu Geometri, Aritmatika dan Astrologi. Sedangkan khusus Astronomi Al-Biruni menulis buku Al-Qanon al-Mas’udi fi al-Hai’ah wa al-Nujum (teori tentang perbintangan).

Di samping itu, ia juga menulis tentang pengetahuan umum lainnya seperti buku Al-Jamahir fi Ma’rifati al-Juwahir (ilmu pertambangan), As-Syadala fi al-Thib (farmasi dalam ilmu Kedokteran), Al-Maqallid Ilm Al-Hai’ah (tentang perbintangan) serta kitab Al-Kusuf wa Al-Hunud (kitab tentang pandangan orang India mengenai peristiwa gerhana bulan).

Itu hanya sebagian kecil dari buku-buku karya Al-Biruni yang beredar. Selain itu masih banyak buku lainnya yang dapat dijadikan rujukan. Namun sangat disayangkan, tidak seperti Ibnu Sina, yang pemikirannya telah merambah Eropa. Karya-karya besar Al-Biruni tidak begitu berpengaruh di wilayah barat, karena buku-bukunya baru di terjemahkan ke bahasa-bahasa barat baru pada abad ke-20.

Penghargaan

Segudang prestasi yang telah ditorehkan oleh al-Biruni menjadikannya pantas untuk menyandang gelar sebagai ilmuwan Muslim terbesar sepanjang masa.  Bahkan sebagian ahli di Barat sepakat untuk menyebut al-Biruni sebagai ilmuwan terbesar yang pernah ada dalam sejarah dunia.

Penghargaan diberikan bukan saja karena penelitian-penelitiannya yang sangat cermat dan akurat, namun juga karena penguasaannya yang sangat mendalam terhadap berbagai disiplin ilmu secara komprehensif dan fakta bahwa al-Biruni telah meletakkan dasar bagi metode penelitian ilmiah yang tetap digunakan hingga lebih dari seribu tahun setelah masa kehidupannya.

Al-Biruni telah memberikan sumbangan multidimensi terhadap dunia sains. Karya-karya peninggalannya adalah bukti keluasan ilmunya terhadap berbagai disiplin ilmu sekaligus.  Kitab At-Tafhim li Awa’il Shina’ah At-Tanjim, misalnya, dianggap sebagai karya yang mumpuni di bidang astronomi sekaligus juga sebagai karya besar yang paling terdahulu mengenai ilmu-ilmu matematika.

Selain mendapat pujian dari umat Islam, al-Biruni juga mendapatkan penghargaan yang tinggi oleh bangsa-bangsa Barat.  Karya-karyanya melampaui Copernicus, Isaac Newton, dan para ahli Indologi yang berada ratusan tahun di depannya. Baik ulama maupun orientalis sama-sama memujinya.

Meskipun dipuji sebagai ahli perbandingan agama yang sangat objektif oleh Montgomery Watt dan Arthur Jeffery, al-Biruni tak pernah menggadaikan keimannya. George Sarton dalam bukunya yang berjudul Introduction to the History of Science menyebut masa kehidupan al-Biruni sebagai ‘era al-Biruni’ (The Time of Al-Biruni), sekedar untuk menunjukkan betapa besar dominasi al-Biruni dalam khazanah keilmuan dunia pada masa itu.

Untuk mengenang al-Biruni, para ilmuwan astronomi memiliki caranya sendiri yang sangat unik.  Pada tahun 1970, International Astronomical Union  (IAU) menyematkan nama al-Biruni kepada salah satu kawah di bulan. Kawah yang memiliki diameter 77,05 km itu diberi nama Kawah Al-Biruni (The Al-Biruni Crater).

Al-Biruni wafat pada tanggal 3 Rajab 448 H / 13 Desember 1048 M di Kota Ghazna. Saat itu usianya tepat memasuki umur 75 tahun. Ilmuwan besar dari Turmenistan ini pun meninggalkan sejumlah karya yang sangat penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Biografi Ibnu al-Haitsam

Beliau mengkaji tentang gerakan yang membawanya menemui sebuah prinsip intersia dan statik. Beliau telah menegaskan dan menjadikan optik sebagai suatu ilmu sains baru. Banyak kajian beliau yang telah mendahului dan kemudian diikuti oleh Francis Bacon, Leonardo da Vinci dan Johanes Kepler.

Al-Hazen Ibnu Haitsam merupakan sebutan salah seorang filsuf islam yang aslinya bernama Abu Ali Muhammad Al-Hasan bin Al-Haitsam. Beliau ialah seorang ilmuan islam yang ahli dalam bidang falak, geometri, sains, matematik, pengobatan dan filsafat. Salah satu penelitian yang pernah ia lakukan pada masanya yaitu mengenai cahaya. Dari penemuan itulah beliau sangat berjasa bagi ahli sains barat seperti Kepler dan Roger Bacon dalam menciptakan karyanya yaitu mikrosof dan teleskop dan juga kamera yang sampai sekarang masih digunakan dan masih sangat bermanfaat.

Al-Hazen Ibnu Haitsam lahir di Basrah-Buwaihiyah tahun 965 M / 354 H  dan meninggal di Qahiroh tahun 1039 tepat diumur 74. Semasa hidupnya, beliau banyak menghasilkan penelitian-penelitian mengenai Sains dan Filsafat, juga telah menulis beberapa  karyanya dalam berbagai kitab tentang teori ilmu matematik, geometri, dan lain sebagainya. Dari sumber yang saya baca, beliau telah menulis beberapa kitab yang menjadi karya semasa hidupnya, diantaranya yaitu :

  Al-jami’ fi Ushul Hisab yang mengandung teori-teori ilmu matematik dan matematik penganalisaannya.

 At-tahlil wat Takbir mengenai ilmu geometri.

 Kitab Tahlilul Masa’ilul Adadiyah tentang algebra.

 Maqalah fi Istikhraj simatul qiblah yang mengupas tentang arah kiblat bagi segenap rantau.

 Maqalah fima Tad’u llah mengenai penggunaan geometri dalam urusan hukum syara’a.

 Risalah fi Sina’atusy Syi’ir mengenai teknik penulisan puisi.

Banyaknya karangan beliau, membuat beliau dikenal sebagai orang yang miskin dari segi harta (material)  namun kaya akan pengetahuan. Dan beberapa pandangannya masih relevan sampai saat ini. Selain terkenal sebagai ilmuan matematik, geometri dan pengobatan, Al-Hazen ibnu Haitsam juga mahir dalam bidang agama, sains, filsafat, astronomi, fisika dan optik.

SAINS
Dari segi Sains, beliau telah menemukan penelitian mengenai cahaya. Hasil penemuannya telah beliau tulis dalam bukunya yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, antara lain Light dan On Twilight Phenomena. Kajiannya banyak membahas mengenai senja dan lingkaran cahaya di sekitar bulan dan matahari serta bayang-bayang dan gerhana. Menurut beliau, cahaya fajar bermula apabila matahari berada di garis 19 derajat di ufuk timur. Warna merah pada senja pula akan hilang apabila matahari berada di garis 19 derajat ufuk barat.
Selain penemuan itu, ibnu Haitsam pun telah menemukan prinsip isi padu udara sebelum seorang ilmuan yang bernama Trricella mengetahui perkara itu 500 tahun kemudian. Lalu kemudian Ibu Haitsam pun menemui kembali penemuan mengenai wujud tarikan gravitasi jauh sebelum Newton mengetahuinya. Bahkan penemuannya mengenai ilmu jiwa manusia sebagai satu retanan perasaan yang bersambung-sambung secara teratur telah memberikan ilham terhadap ilmuan-ilmuan barat dalam menghasilkan wayang gambar.

FILSAFAT

Penulisannya mengenai filsafah, logika, metafisika dan persoalan yang berkaitan dengan keagamaan turut ia ringkas ulasanan tersebut dalam karya-karya sarjana terdahulu. Penulisan filsafahnya banyak tertumpu kepada aspek kebenaran dalam masalah yang menjadi pertikaian. Baginya, filsafah tidak boleh dipisahkan dari pada matematik, sains dan ketuhanan. Ketiga-tiganya harus dikuasai dan untuk menguasainya seseorang perlu menggunakan waktu muda dengan sepenuhnya. Apabila umur semakin meningkat, kekuatan fisik dan mental akan turut mengalami kemerosotan.

ASTRONOMI

Dalam karya astronominya, Al-Haitsam melanjutkan pendapat para ilmuan Yunani mengenai proses pengubahan langit abstrak menjadi benda-benda padat. Beliau melukis gerakan planet-planet, tidak hanya dalam terma eksentrik dan episiklus saja tetapi juga dalam satu model fisik. Pendapatnya banyak mempengaruhi dunia pemikiran bagian Barat pada zaman Jonhannes Keples. Tiga abad kemudian karya ini ditukar dalam bentuk ikhtisar oleh astronomi muslim yaitu Nasiruddin At-Tusi.

FISIKA

Dalam bidang ini, beliau mengkaji tentang gerakan yang membawanya menemui sebuah prinsip intersia dan statik. Beliau telah menegaskan dan menjadikan optik sebagai suatu ilmu sains baru. Banyak kajian beliau yang telah mendahului dan kemudian diikuti oleh Francis Bacon, Leonardo da Vinci dan Johanes Kepler.

OPTIK

Kajian ilmu optiknya menghasilkan karya sebuah kamera yang berkinerja obscura dan sampai saat ini masih digunakan oleh seluruh umat manusia di seluruh penjuru dunia. Istilah kamera obscura ditemukan oleh Al-Haitsam dan dikenalkan pertama kali oleh Joseph Kepler (1571 M- 1630 M) di daerah barat. Kajian yang membahas tentang Optik ini, terdapat pada karyanya yaitu buku atau kitab jurnal Al-Manazir yang djadikan rujukan ilmu optik. Karena itu tidaklah  heran jika ia dijuluki sebagai bapak optik. Di dalam kitab Al-Manazir ini, beliau menjadi ilmuan pertama yang mampu menjelaskan bagaimana cara kerja optik pada  mata manusia dalam menangkap atau menerima gambar secara detil dan visual. Dalam penulisannya mengenai optik yang ada pada jurnal kitabnya yaitu Al-Manazir, beliau memang banyak terpengaruh dari ilmuan Barat Aristoreles, khususnya visi yang melibatkan penerimaan gambar eksternal.

Di masa mudanya saat dimana ia haus akan pengetahuan dan menghabiskan waktu-waktu muda sampai remaja kemudian masa dewasa, ia berkelana mencari ilmu dari Basrah ke Ahzaw lalu Mesir dan Kairo. Pada tahun 345 H atau 965 M sebelum dilantik menjadi pegawai pemerintah di bandar kelahirannya ia memulai pendidikannya di Basrah kemudian setelah lama menjadi anggota kepemerintahan disana, beliau melanjutkan belajarnya ke Ahzaw dan Baghdad, di dua daerah rantauan tersebut, beliau memfokuskan belajarnya dalam perhatiannya pada penulisan.

Lalu kemudian beliau berhijrah ke Mesir dan memutuskan untuk berkerja menyelidiki aliran Sungai Nil serta menyalin buku-buku mengenai matematik dan falak. Tujuan ia berkerja ialah agar ia memiliki uang untuk melanjutkan perjalanan belajarnya atau pencarian ilmunya ke Universitas Al-Azhar. Hasil dari panjangnya perjalanan, usaha-usaha yang dilakukan dan segala karya yang telah beliau tulis. Al-Hazen ibnu Haitsam seorang filsuf islam terkenal menjadi seorang yang sangat mahir, cerdas, dan pintar dalam bidang falak, filsafat, matematik, sains, agama, geometri, pengobatan dan optik. Dan sampai saat ini telah tercatat bahwa penemuan Optik menjadi karya utama dari Al-Hazen ibnu A-Haitsam seorang Filsuf Islam yang sangat cerdas.

Selain karya utama tentang Optik yang dijadikan warisan intelektual dari Al-Hazen ibnu Haitsam, dua karya lainnya yang juga terkenal adalah Eksperimen Lensa dan Metode Kamar Gelap. Sejarawan terkemuka Amerika. George Sarton, mengumpulkan karya-karya Al-Hazen ibnu Haitsam dalam bukunya yang berjudul  Introduction to The Study of Science. Buku ini menjadi bacaaan yang wajib bagi mereka yang mencintai ilmu.

EKSPERIMEN LENSA

Dalam eksperimen lensa ini, beliau Al-Hazen ibnu Haitsam membuat sendiri lensa dan cermin cekung melalui mesin bubut yang ia miliki. Eksperimennya yang tergolong berhasil ialah pada  saat ia menemukan titik fokus sebagai tempat pembakaran terbaik. Saat itu, ia berhasil mengawinkan cermin-cermin bulat dan parabola. Semua sinar yang masuk dikonsentrasikan pada sebuah titik fokus, sehingga menjadi ttik bakar.

METODE KAMAR GELAP

Pada dasarnya metode kamar gelap sama saja dengan metode kamera obscura, metode ini dilakukan oleh Al-Hazen ibnu Haitsam saat gerhana bulan terjadi. Kala itu, ia mengintip citra matahari yang setengah bulat pada sebuah dinding yang berhadapan dengan sebuah lubang kecil yang dibuat pada tirai penutup jendela.

Biografi Ibnu Yunus

Karya penting Ibnu Yunus dalam astronomi yang lainnya adalah Kitab “Ghayat al-Intifa”. Kitab ini berisi tabel bola astronomi yang digunakan untuk mengatur waktu di Kairo, Mesir. Tabel ini digunakan hingga abad ke- A 19.

Ibnu Yunus adalah astronom dan matematikawan Muslim yang sangat penting dari Mesir. Dia termasuk ilmuwan yang paling detail dalam melakukan penelitian. la telah memberi inspirasi dan pengaruh bagi para astronom di dunia Muslim maupun Barat berkat pemikirannya yang ratusan tahun lebih maju’ dibanding masanya. Ibnu Yunus adalah penemu Bandul atau pendulum yang berguna untuk mengetahui waktu berdetik ketika sedang meneropong benda langit. Bandul Ibnu Yunus ini telah dikenal 6 abad sebelum Galileo Galilei dan Christiaan Huygens menemukan pendulum! Ibnu Yunus juga menemukan Rubu Berlubang atau Gunners Quadrant, sebuah alat untuk mengukur gerakan bintang. Kawah Bulan Ibnu Yunus diambil dari namanya untuk menghormati jasanya.

Kitab Az-Zaij Al-Hakimi, Tebal Dan Akurasi Tingkat Tinggi

Kitab ‘Az-Zaij Al-Hakimi merupakan kitab sangat tebal yang terdiri dari petunjuk dan tabel astronomi hasil penelitian Ibnu Yunus dan hasil penelitian para astronom sebelumnya yang telah ia koreksi. Nilai penelitian astronomi yang ada pada buku ini dijamin kebenarannya hingga tingkat akurasi mencapai tujuh desimal! Kitab ini juga mengungkap 40 konjungsi antar planet dan 30 gerhana bulan. Sayangnya sebagian babnya tersebar di berbagai perpustakaan di beberapa negara dan hanya setengahnya yang berhasil diselamatkan. Seorang filsuf dan sosiolog Prancis, Gustav Le Bon mengatakan. Buku Az-Zalj A-Hakimi lebih akurat daripada sermua buku pada bidang yang sama.

Ghayat al-Intifa, Azimuth dan Waktu Kairo

Karya penting Ibnu Yunus dalam astronomi yang lainnya adalah Kitab “Ghayat al-Intifa”. Kitab ini berisi tabel bola astronomi yang digunakan untuk mengatur waktu di Kairo, Mesir. Tabel ini digunakan hingga abad ke- A 19. Ibnu Yunus juga membuat tabel untuk menghitung lama siang hari. Selain itu, ia menyusun tabel untuk menentukan azimuth matahari untuk kota Kairo yaitu lintang 30° dan Baghdad yaitu lintang 33:25 Azimuth adalah sudut putar dari arah Barat hingga Timur Bumi. Tak lupa Ibnu Yunus menyusun tabel sinus untuk amplitude terbitnya matahari di Kairo dan Baghdad. Secara tekun dan penuh ketelitian, ia juga telah melakukan pengamatan lebih dari 10 ribu mnasukan untuk posisi matahari dengan memakai sebuah astrolab besar yang berdiameter 1,4 meter.

Biografi Ibnu Yunus, Karya untuk Al-Hakim

Ibnu Yunus bernama lengkap Abu al- Hasan ‘Ali ibnu ‘Abd al-Rahman ibnu Ahmad ibnu Yunus al-Sadafi al-Misri. Tanggal dan tempat kelahiran Ibnu Yunus tidak diketahui secara pasti walaupun diperkirakan pada tahun 925. Ibnu Yunus mendedikasikan hasil karyanya kepada khalifah Al-Hakim Biamrillah yang mencintai ilmu dan memperhatikan ilmu astronomi. Al-Hakim lalu membangun Darul Hikmah di Kairo sebagai tempat bertemunya para ulama dan membekali Darul Hikmah dengan perpustakaan besar dan melengkapi peralatan teropong bintang.

Wallahu a’lam.

Biografi Al-Khwarizmi

Al-Khwarizmi mengembangkan konsep algoritma dalam matematika (yang merupakan alasan mengapa ia disebut kakek ilmu komputer oleh sebagian orang).

Tak satu pun dari pencapaian besar sains modern, tidak akan mungkin terjadi tanpa matematika, sains, dan pengembangan aljabar. Kata aljabar berasal dari kata Arab al-jabr, yang berakar pada judul naskah abad ke-9 yang ditulis oleh ahli matematika Al-Khwarizmi.

Muhammad bin Musa al-Khwarizmi adalah ahli matematika Persia, astronom, ahli geografi peramal dan sarjana di House of Wisdom di Baghdad. House of Wisdom adalah pusat penelitian dan pengajaran ilmiah.

JJ O’Conner dan EF Robertson menulis di arsip Sejarah Matematika MacTutor, “Mungkin salah satu kemajuan paling signifikan yang dibuat oleh matematika Arab dimulai pada saat ini dengan karya al-Khwarizmi, yaitu awal aljabar. Penting untuk memahami seberapa penting ide baru ini. Itu adalah langkah revolusioner dari konsep matematika Yunani yang pada dasarnya geometri. Aljabar adalah teori pemersatu yang memungkinkan bilangan rasional, bilangan irasional, besaran geometris, dan lain-lain”

Muhammad Ibn Musa Al-Khwarizmi, yang dijuluki Al-Khwarizmi, berasal dari keluarga Persia dari Khorasan – sekarang terletak di Uzbekistan.

Tanggal pasti kelahirannya tidak jelas, tetapi biasanya dianggap pada c.780. Ada sangat sedikit informasi tentang kehidupan awalnya, tetapi jelas bahwa ia adalah salah satu siswa yang cerdas di Baghdad, Irak.

Bagdad adalah kota pengetahuan pada masa Era Emas umat Islam. Ada sebuah lembaga besar di Baghdad pada masa Al-Khwarizmi, yang disebut Dar-Al-Hikmat (House of Wisdom). Al-Khwarizmi adalah salah satu dari banyak peneliti yang bekerja di House of Wisdom sebagai ahli matematika, ahli geologi, dan astronom.

Dia membuat sebagian besar penemuan dan kontribusi ilmiahnya pada periode 813 hingga 833. Dia juga seorang penerjemah yang sangat baik dan telah menerjemahkan begitu banyak buku ke dalam bahasa Arab dari bahasa lain, seperti bahasa Sanskerta dan Yunani.

Penemuan Luar Biasa Al-Khwarizmi Bagi Masa Depan
Al-Khwarizmi mengembangkan konsep algoritma dalam matematika (yang merupakan alasan mengapa ia disebut kakek ilmu komputer oleh sebagian orang).

Aljabar Al-Khwarizmi dianggap sebagai dasar dan landasan sains. Kepada al-Khwarizmi kita berhutang dunia “aljabar,” dari judul karya matematika terhebatnya, Hisab al-Jabr wa-al-Muqabala.

Buku itu, yang dua kali diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, oleh Gerard dari Cremona dan Robert of Chester pada abad ke-12, menghasilkan beberapa ratus persamaan kuadrat sederhana dengan analisis dan juga dengan contoh geometris.

Istilah “aljabar” berasal dari nama salah satu operasi dasar dengan persamaan ( al-jabr , yang berarti “restorasi”, merujuk pada penambahan angka pada kedua sisi persamaan untuk mengkonsolidasikan atau membatalkan istilah) yang dijelaskan dalam buku itu.

Salinan Arab yang unik disimpan di Oxford dan diterjemahkan pada tahun 1831 oleh F. Rosen. Terjemahan Latin disimpan di Cambridge.

Hal itu juga memiliki bagian substansial tentang metode pembagian warisan dan survei plot tanah. Ini sebagian besar berkaitan dengan metode untuk memecahkan masalah komputasi praktis daripada aljabar karena istilah tersebut sekarang dipahami.

Hal yang taj kalah penting adalah kontribusi al-Khwarizmi terhadap geografi abad pertengahan. Dia mensistematisasikan dan mengoreksi penelitian Ptolemy dalam geografi, menggunakan temuan aslinya sendiri yang berjudul Surat al-Ard (The Shape of the Earth).

Teks itu ada dalam sebuah manuskrip; sayangnya peta-peta tersebut belum dilestarikan, meskipun para sarjana modern telah mampu merekonstruksinya dari deskripsi al-Khwarizmi.

Dia mengawasi pekerjaan 70 ahli geografi untuk membuat peta “dunia yang dikenal” saat itu. Ketika karyanya dikenal di Eropa melalui terjemahan Latin, pengaruhnya membuat tanda permanen pada pengembangan ilmu pengetahuan di Barat.

Beberapa Kontribusi Penting Lainnya
Algoritma
Pada abad ke-12, terjemahan Latin dari buku pelajarannya tentang aritmatika (Algorithmo de Numero Indorum) yang mengkodifikasi berbagai angka India, memperkenalkan sistem bilangan desimal posisional ke dunia Barat.

The Compendious Book on Calculation by Completion and Balancing, diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Robert of Chester pada tahun 1145, digunakan sampai abad keenam belas sebagai buku teks matematika utama universitas-universitas Eropa.

Karya Al-Khwarizmi tentang aritmatika bertanggung jawab untuk memperkenalkan angka-angka Arab, berdasarkan sistem angka Hindu-Arab yang dikembangkan dalam matematika India, ke dunia Barat.

Istilah “algoritma” berasal dari algorisme, teknik melakukan aritmatika dengan angka-angka Hindu-Arab yang dikembangkan oleh al-Khwārizmī. Baik “algoritma” dan “algorisme” berasal dari bentuk Latinized nama al-Khwārizmī, Algoritmi dan Algorismi, masing-masing.

Saat ini, komputer banyak menggunakan algoritma untuk menyelesaikan berbagai masalah dan pengambilan keputusan. Karena pengenalan konsep algoritma, Al-Khwarizmi kadang-kadang disebut sebagai bapak ilmu komputer.

Perbaikan dalam Sundial
Sundial adalah instrumen yang menunjukkan waktu dengan bantuan posisi Matahari. Matahari membentuk bayangan pointer di piring yang berisi tanda periode waktu. Bayangan penunjuk berputar pada tanda ketika matahari mengubah posisinya.

Al-Khwarizmi memperbaiki desain jam matahari dan menjadikannya instrumen universal untuk memeriksa waktu di bagian dunia mana pun.

Uni Soviet mengeluarkan perangko pada tahun 1983 di mana gambar Al-Khwarizmi terukir.

Universitas Amir Kabir di Teheran di Iran telah menempatkan patung Al-Khwarizmi.

Al-Khwarizmi menjadi kepala Dar-ul-Hikmat (Rumah Kebijaksanaan) pada masa Khalifah Mamun Muslim.

Besarnya kontribusinya terhadap matematika terlihat jelas dari fakta bahwa kedua istilah “algoritma” dan “algoritma” berasal dari bentuk Latin nama Al-Khwarizmi, ‘Algoritmi’ dan Algorismi ‘, masing-masing.

Dia telah meninggal pada usia 70 tahun pada c.850.

Biografi Muhammad al-Fazari

Al-Fazari menerjemahkan beberapa literatur asing ke dalam bahasa Arab dan Persia. Bersama dengan beberapa cendekiawan lain, seperti Naubakht, dan Umar ibnu al-Farrukhan al-Tabari, beliau meletakkan dasar-dasar ilmu pengetahuan di dunia Islam.

Abu abdallah Muhammad bin Ibrahim al-Fazari (meninggal 796 atau 806) adalah seorang filsuf, matematikawan dan astronom  Muslim. Ia banyak menterjemahkan buku-buku sains ke dalam bahasa Arab dan Persia. Ia juga merupakan astronom muslim pertama yang membuat astrolobe, alat untuk mengukur tinggi bintang. Ia pernah mendapat tugas untuk menterjemahkan ilmu angka dan ilmu hitung, serta ilmu astronomi India yang bernama Sind Hind, oleh khalifah Al Mansyur dari Abbasiyah.

Ayahnya bernama Ibrahim Al-Fazari yang juga seorang astronom dan matematikawan. Beberapa sumber menyebut dia sebagai seorang Arab, sumber lain menyatakan bahwa ia adalah seorang Persia. Al Farazi menetap serta berkarya di Baghdad, Irak, ibu kota kekhalifahan Abbasiyah.

Muhammad bin Ibrahim al-Fazari bersama ayahnya, Ibrahim al fazari, merupakan seorang ahli matematika dan astronom di istana kekhalifahan Abbasiya, di era khalifah harun al Rasyid. Ia menyusun berbagai jenis penulisan astronomi.

Bersamaan dengan Ya’qub ibn Thariq dan ayahnya, ia membantu menterjemahkan teks astronomi India oleh Brahma gupta (abad 7 M), Brahma Sphuta Siddhanta, ke dalam bahasa Arab sebagai Az jiz ala Sini al Arab atau kitab Sindhind. Terjemahan ini dimungkinkan sebagai saran penting dalam tranmisi angka hindu dari India ke dalam Islam.

Dinasti Abbasiyah yang berkuasa saat itu memberikan peluang dan dukungan yang sangat besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan apalagi dalam bidang astronomi. Khalifah al-Mansyur adalah penguasa Abbasiyah pertama yang memberi perhatian serius dalam pengkajian astronomi dan astrologi.

Khalifah Harun al rasyid mengumpulkan dan mendorong cendekiawan muslim untuk menerjemahkan beragam literatur yang berasal dari Yunani, Romawi Kuno, India, hingga Persia. Al Farazi adalah salah satu astronom paling awal di dunia Islam. Beliau memegang peran penting dalam kemajuan ilmu astronomi di masa Abbasiyah.

Al-Fazari menerjemahkan beberapa literatur asing ke dalam bahasa Arab dan Persia. Bersama dengan beberapa cendekiawan lain, seperti Naubakht, dan Umar ibnu al-Farrukhan al-Tabari, beliau meletakkan dasar-dasar ilmu pengetahuan di dunia Islam.

Pekerjaan al-Fazari

Khalifah Harun al rasyid menunjuk seorang ahli astronomi yang bernama Naubahkh untuk memimpin upaya penerjemahan. Khalifah menulis surat pada kaisar Bizantium agar mengirimkan buku-buku ilmiah untuk diterjemahkan, termasuk buku-buku tentang ilmu astronomi.

Mungkin sekitar tahun 790, Al-Fazari menterjemahkan banyak buku sience ke dalam bahasa Arab dan Iran. Ia ditasbihkan sebagai pencipta astrolabe pertama dalam dunia Islam. Bersamaan dengan Yaʿqub ub ibn Tariqia membantu menerjemahkan teks astronomi India oleh Brahmagupta, Sindhind., dalam bahasa Arab, Az-Zij ‛ala Sini al-‛Arab(Tables of the disks of the astrolabe).

Penerjemahan ini kemungkinan merupakan awal dimana angka Hindu ditransmisi dari India ke Islam. Buku tersebut dibawa oleh seorang pengembara dan ahli astronomi India bernama Mauka ke Baghdad dan segera menarik perhatian kaum cendekia di sana.

Al-Fazari menunaikan tugas dengan baik, menurut Ehsan Masood dalam bukunya “Ilmuwan Muslim Pelopor Hebat di Bidang Sains Modern”, saat itu telah menguasai astronomi sehingga di bawah arahan khalifah langsung beliau mampu menerjemahkan dan menyadur teks astronomi India kuno yang sangat teknis tersebut. Kemudian beliau memberi judul Zij al Sinin al Arab (Tabel Astronomi Berdasarkan Penanggalan Bangsa Arab) pada karya terjemahannya tersebut.

Menurut Ehsan Masood, penerjemahan Sindhind sangat berharga. Bukan hanya karena wawasan astronominya tapi juga sistem penomoran India, Kalpa Aharganas dengan perhitungan tahun Hijriah Arab. Selain itu, karya al Farazi mencantumkan daftar negara-negara di dunia dan dimensinya berdasarkan perhitungan tabel. Hasil kerja Al Farazi melalui penerjemahan mengenalkan sistem penomoran tersebut ke dunia Arab.

Astrolab planisferis merupakan mesin hitung analog pertama, difungsikan sebagai alat bantu astronomi untuk menghitung waktu terbit dan tenggelam serta titik kulminasi matahari dan bintang serta benda langit lainnya pada waktu tertentu. Astrolab menjadi instrumen paling penting yang pernah dibuat. Dengan desain akurat, astrolab menjadi instrumen penentu posisi pada abad pertengahan.

Astrolab merupakan model alam semesta yang bisa digenggam sekaligus jam matahari untuk mengukur tinggi dan jarak bintang. Chaucer dalam “Treatise in the Astrolabe” menyatakan bahwa Astrolab kemudian menjadi alat navigasi utama, hanya dalam beberapa bulan setelah ditemukan Astrolab oleh Al Farazi, kemajuan astronomi melejit cepat.

Astrolab memainkan peranan penting dalam pencapaian bidang astronomi oleh umat Muslim hingga masa-masa berikutnya. Seorang astronom bernama al Sufi berhasil memanfaatkannya dengan baik. Al Sufi mampu memetakan sekitar seribu kegunaan Astrolab dalam berbagai bidang yang berbeda seperti astronomi, astrologi, digunakan termasuk meramalkan posisi matahari, bulan, planet, dan bintang-bintang, navigasi. Dalam dunia Islam, Astrolabe digunakan untuk menemukan waktu matahari terbit dan naik dari bintang-bintang, untuk membantu jadwal (shalat).

Pada abad ke-13, karya ini ditemukan kembali oleh penjelajah dan ahli geografi Muslim bernama Yaqut al-Hamawi dan al-Safadi. Gairah dan kemauan para sarjana Muslim belajar dari tradisi ilmu lain serta dukungan penuh dari pemerintahan menjadi kunci keberhasilan dalam memajukan ilmu pengetahuan di dunia Islam.